Citizen Jurnalisme dan Lustrum

Ada suatu trend di dunia cyber yang dikenal dengan istilah ‘citizen jurnalisme’. Citizen jurnalisme (CJ) adalah masyarakat umum berperan menjadi wartawan melaporkan sesuatu yang dia lihat, dia alami, dia pikirkan agar diketahui khalayak melalui pemanfaatan kemajuan teknologi informasi. Kelebihan CJ adalah sifatnya yang partisipatif, lebih cepat, dan lebih personal. Saya pernah mendengarkan di radio, saat Tsunami di Pangandaran tahun yll seorang wisatawan –korban yang selamat— sambil terengah-engah melaporkan apa yang dia lihat beberapa menit pasca gelombang tsunami menghantam pantai pangandaran. Luar biasa mencekam, dan mengharukan, membuat kita serasa larut di dalamnya.

Alangkah indahnya kalo dalam reuni ini kita mendorong CJ. Saya membayangkan kalo saja 5 % peserta reuni mau meluangkan waktu mengirimkan artikel ke blog lustrum IX atau minimal mengirim laporan pandangan mata-nya ke milis forestGAM atau e-mail panitia, maka Panitia akan membantu mengup-loadkannya ke blog. Manfaatnya jelas, pertama membantu rekan-rekan yang kebetulan tidak bisa datang ke Yogya untuk mengakses perkembangan yang ada selama reuni kita, kedua meningkatkan gaung dari penyelenggaraan reuni itu sendiri.

Seharian kemarin saya ada di lokasi reuni, meskipun terkadang on-off karena aktivitas kepanitiaan dan intervensi pekerjaan lain. Sebenarnya menarik menyimak perkembangan yang ada di dalam reuni. Pada acara uneg-uneg misalnya mas Bambang Priambodo ITCI mengkritik tentang keikutsertaan mahasiswa dalam reuni yang kalah (harus keluar ruangan acara TEMU ALUMNI DAN MAHASISWA) karena ternyata mereka harus ikut kuliah yang lain. Apakah Fakultas tidak mampu membebaskan mahasiswa-mahasiswa tadi agar bisa lebih konsen terlibat dalam pesta reuni bersama para alumni. Kritik yang lain adalah soal, partisipasi tuan rumah (baca dosen) dalam ‘pesta’ ini, karena banyak “TOKOH” dosen yang tidak kelihatan batang hidungnya. Untung saya tidak termasuk TOKOH, sehingga kalo pun tidak muncul, tidak dicari he he he.

Kalau itu semua ada yang melaporkan dan kita up load dalam blog, tentu akan menjadi wacana yang menarik. Sayang budaya kita masih jauh dari sana. Pertama, penetrasi budaya internet masih terbatas pada kalangan tertentu (kaum muda, yang punya e-literacy tinggi terutama). Kedua, budaya menulis kita mungkin masih rendah, ketiga kita lebih sering mendown-load daripada meng-up load. Ternyata saya juga kesulitan mencari pasokan materi resmi, notulen-notulen yang saya harapkan ternyata juga dapat menyediakan materi yang dapat saya up load.

Yeah, mungkin 5 tahun lagi baru, kita bisa mengatakan YES, WE CAN.

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s