DAS dan Kehidupan Berkelanjutan: Menjawab Tantangan krisis pangan, energi dan air untuk kehidupan

Rationale
Di dalam buku terbarunya (Common Wealth: Economics for a crowded planet, 2008), Jeffrey Sach menyebut enam kecendrungan global yang mewarnai ekonomi dunia dalam waktu dekat ini, yakni berhubungan dengan konvergensi politik ekonomi dan politik ekologi dunia, semakin banyaknya manusia yang mengkonsumsi barang-barang termasuk energi dan pangan lebih banyak, tumbuhnya ekonomi Asia, urbanisasi besar-besaran, perubahan lingkungan termasuk perubahan iklim, dan meningkatnya angka kemiskinan. Enam kecenderungan tersebut tidak selalu merupakan jalinan sebab akibat dan berjalan secara parallel. Ini mampu menyebabkan berbagai krisis kekacauan bagi Negara-negara dan daerah yang tidak mampu ikut bermain di dalam barisan “perang” millennium yang rapi. Meroketnya ekonomi Asia oleh perkembangan China, India, ditambah oleh pemain lama (Jepang, Singapore, Taiwan, Korea) menimbulkan berbagai gejolak ekonomi, politik, social, dan lingkungan. Krisis yang sudah terjadi adalah kerentanan ketahanan perkonomian oleh sebab gejala krisis energi, krisis pangan, dan krisis air.

Posisi Indonesia sangat unik karena kondisi geografis, demografis, bio-fisik, hutan dan kekayaan sumberdaya alam. Perkembangan ekonomi nasional dan daerah tidak dapat dilepaskan dari 5 karakter tersebut. Ditambah dengan persoalan dinamika budaya masyarakat dan politik, maka semakin kompleks persoalan yang harus dihadapi dan “medan perang” yang harus dimainkan.

Kompleksitas tersebut kenyataannya ada (dan dapat dimainkan) di dalam setiap bentang lahan yang bercirikan daerah aliran sungai (DAS). Selain sebagai satuan ekosistem, DAS dapat dijadikan kerangka pengembangan ekonomi berbasis sumberdaya alam yang dengan serta merta menggarap persoalan energi, pangan, dan air. Ketika berbidara mengenai DAS, kita tidak boleh lagi terikat pada horizon rehabilitasi lahan dan hutan, tidak boleh lagi sebatas perbaikan tata air dan konservasi tanah. DAS harus dapat berperan aktif sebagai pertautan gugus ekonomi-bisnis, sosial-kesejahteraan-pengentasan kemiskinan, ekologi (air, kenekaragaman hayati, penyerap emisi karbon). DAS tidak lagi diperlakukan sebagai “green basis”, tetapi harus mampu menjadi satuan “gold and sustained livelihood”.

Arahan untuk pemakalah dan diskusi

Diskusi diarahkan untuk memperkuat elemen pernyataan politik bertema sebagai berikut:
“Pandangan dan posisi UGM (governance, international diplomacy, implications, stakeholders’ roles, culutral values) dalam menghadapi krisis global melalui pengelolaan DAS bagi kehidupan berkelanjutan”

Sub-tema yang diharapkan menjadi isu kunci adalah:
1. Sumbangan pengelolaan DAS dalam penyediaan air untuk kehidupan
2. Peran DAS dalam ekonomi energi
3. Peran DAS dalam penanggulangan krisis pangan
4. Politik ekonomi dan politik ekologi DAS
5. Advokasi Tata-kepemerintahan dan pengelolaan DAS
6. Peran Pengelolaan DAS dalam penanggulangan perubahan iklim
7. Maksimasi peran “entrepreneurship” para pihak dalam pengelolaan DAS
8. Reformasi Riset dan pengembangan DAS

Tulisan ini merupakan draft Kerangka Acuan Komisi Seminar I yang ditulis oleh Dr. Agus Setyarso (agusse@yahoo.com)

One response to “DAS dan Kehidupan Berkelanjutan: Menjawab Tantangan krisis pangan, energi dan air untuk kehidupan

  1. sedikit usulan untuk thema dan sub thema:

    -perubahan iklim mohon diperluas ke arah perubahan lingkungan global (global env. change=GEC). Karena perubahan global tidak hanya perubahan iklim namun juga change of landuse, atmospheric composition, biodiversity loss, pollution dll. (see Vitousek, 1992;1994)

    – implikasi perluasan thema:
    1. antara sub thema dan thema lebih “nyekrup”.
    2. krisis lingkungan global yang terjadi negara kita sebagian besar dipicu langsung oleh perubahan landuse, sementara perubahan iklim adalah faktor pendukung.
    3. DAS akan terkait dengan perubahan iklim melalui perubahan landuse.
    4. isue konservasi biodiversitas terwadahi lebih eksplisit.
    5. Sintesis sub thema untuk mendukung thema akan lebih mudah menggunakan framework perubahan lingkungan global.

    terima kasih atas perhatiannya

    ref:
    Vitousek, P.M., 1992. GEC: an introduction. Ann. Rev. Ec.Syst. (23):1-14.
    Vitousek, P.M., 1994. Beyond global warming: ecology and global change. Ecology 75:1861-1876.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s