Komisi V Hutan dan Perubahan Iklim Global

 

LATAR BELAKANG

Sektor kehutanan yang dalam negosiasi UNFCCC masuk dalam agenda LULUCF (Land Use, Land Use Changes anf Forestry) menjadi salah satu isu dominan sejak lahirnya mekanisme CDM dan belakangan REDD serta beberapa elemen terkait dalam Bali Action Plan.  Sudah banyak dipahami bahwa hutan dalam konteks perubahan iklim global dapat berperan baik sebagai penyerap dan penyimpan carbon (sink ) maupun sebagai sumber emisi (source). Praktik pengelolaan hutan produksi lestari, pengelolaan kawasan konservasi dan lindung, pembatasan konversi hutan, pemberantasan illegal logging dan penanggulangan kebakaran hutan akan mengurangi emisi CO2 dan meningkatkan resiliensi ekosistem hutan terhadap perubahan iklim. Rehabilitasi lahan dan hutan terdegradasi, pengembangan  hutan tanaman industri dan perkebunan di lahan-lahan yang terdegradasi,  akan meningkatkan kapasitas hutan dalam menyerap dan menyimpan carbon, yang pada akhirnya juga akan meningkatkan resiliensi ekosistem hutan terhadap perubahan iklim.  Dengan demikian, pengelolaan hutan lestari berkontribusi positif terhadap upaya adaptasi dan mitigasi perubahan iklim.

Deforestasi sesuai data dari World Resource Institute (WRI, 2000) yang dikutip dalam Stern Report menyumbang sekitar 18 % terhadap emisi gas rumah kaca (Green House Gases/GHGs) global sebesar 42 Gton CO2e per tahun. IPCC (2007) mencatat kontribusi dari deforestasi sebesar 17 % terhadap total emisi GHGs global. Di lain pihak, vegetasi dan tanah menyimpan ± 7500 Gt CO2 atau lebih dari dua kali lipat CO2 di atmosfir, sedangkan hutan menyimpan ~ 4500 Gt CO2, lebih besar dari  GHGs di atmosfir.  Berdasar sumber di atas,  dari 18% kontribusi emisi tersebut (~ 8 Gton CO2e per tahun), 75 % diantaranya berasal dari deforestasi di negara berkembang.  Dan Emisi dari deforestasi di negara berkembang diperkirakan akan terus meningkat (sebagai konsekuensi dari pertambahan penduduk, keperluan pembangunan dan lain-lain), apabila tidak ada intervensi kebijakan yang memungkinkan negara berkembang mengurangi deforestasi dengan tetap menjamin keberlanjutan pembangunan nasional. Indonesia, berdasarkan data FAO (2005), diantara 8,22 juta ha pengurangan hutan per tahun di 10 negara berkembang, Brazil dan Indonesia menyumbang masing-masing 3,10 juta ha/tahun dan 1,87 juta ha/tahun.

Bagi negara seperti Indonesia dengan SDH yang termasuk luas  dan kerusakan hutan yang tinggi,  isu perubahan iklim sering dimanfaatkan oleh dunia luar untuk memperlemah daya saing Indonesia tidak hanya dalam perdagangan jasa yang terkait perubahan iklim (carbon) tetapi juga komoditi lain (misal produk dari HTI,  kelapa sawit).  Data dunia yang menyebutkan Indonesia sebagai pengemisi  terbesar ketiga di dunia dan terbesar bersumber dari deforestasi disikapi dengan defensive tanpa cukup upaya memperkuat basis ilmiah untuk menyanggahnya, hal ini semakin memperlemah posisi Indonesia. Pemahaman tentang hutan dan perubahan iklim lebih banyak terdominasi pada A/R CDM dan REDD, pro dan kontra mendominasi perkembangan yang terjadi terkait 2 mekanisme tersebut, dan sedikit perhatian terhadap apa esensi peran hutan dalam perubahan iklim, bagaimana sebaiknya diintegrasikan  dalam program nasional dan sektor, dan tantangan yang dihadapi oleh kehutanan Indonesia dengan semakin meningkatnya perhatian komunitas internasional terhadap hutan di negara berkembang dikaitkan dengan perubahan iklim, apa dan bagaimana masing-masing pihak (Pemerintah/Pusat-Daerah otonom,  kalangan bisnis,  ilmuwan,  dan civil Societies) berkontribusi terhadap penanganan isu kehutanan dan perubahan iklim  serta penguatan posisi Indonesia di tingkat global.

 TUJUAN

1.       Berbagi informasi tentang perkembangan penanganan isu perubahan iklim di tingkat internasional  dan nasional, hutan dan perubahan iklim, dan mengapa penting bagi Indonesia,

2.       Mengetahui seberapa jauh UGM dan alumninya aware  tentang isu perubahan iklim dan kehutanan, dan menjaring pandangan serta idea tentang langkah ke depan menyikapi dan berkontribusi terhadap penanganannya,

3.       Membangun knowledge network dalam rangka pooling expertise & experiences,  mensinergikan upaya dan meningkatkan peran/kontribusi UGM dan alumninya dalam penanganan isu terkait kehutanan dan perubahan iklim.

OUTPUT YANG DIHARAPKAN

1.       Meningkatkan awareness  serta kepedulian UGM dan alumninya terhadap isu strategis terkait hutan dan perubahan iklim,

2.        Membangun kesepahaman dan kesepakatan tentang langkah-langkah yang akan diambil dalam meningkatkan kiprah dan kontribusi UGM dan alumninya dalam penanganan isu tersebut,

3.       Menjaring pendapat sebagai dasar menentukan langkah tindak lanjut terkait dengan idea membangun knowledge network.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s